Crushed

Crushed

Seorang wanita yang mampu melewati batas imajiner dari ketidakmampuan untuk menanyakan realita yang sudah membanjiri setiap inchi hatinya dengan rasa penasaran, mengumbar senyum hampa seraya menghampiri seorang pria yang meski wajah mudanya terlihat amat terpancar, namun jiwanya membusuk seperti sebuah plastik berusia miliyaran tahun yang sudah siap menjadi fosil.

“Apakah kau mencintaiku?” sebuah pertanyaan seluas alam semesta yang tak terbatas dan dibatasi oleh ruang fisik semata itu, terlontar dari bibir penuh darah yang membeku secara paksa akibat dehidrasi yang coba ia rangkul setiap hari, ia mencintai dehidrasi, ia menyukai rasa menyiksa yang ikut datang bersamanya.

Sang pria mengacuhkan tanya, menciptakan kesunyian bohong di luar sana. Bohong— sebab jauh di dalam, di kegelapan tanpa batas dari pikirian manusia, keduanya begitu bising, seperti mesin pesawat yang siap meledak dan membuat dunia memperhatikan.

Wanita itu tak berhenti, seolah jawaban sang pria atas pertanyaan itu adalah pilihan keputusan baginya untuk melanjutkan nafasnya atau cukup sampai disana saja. Ia mencoba  menampar nurani sang pria dengan air mata yang coba ia arahkan untuk membasahi seluruh pipi, air mata yang bahkan jauh lebih banyak dari air yang pernah ia minum. Ia kembali bertanya, “Apakah kau mencintaiku?” dengan nada terisak berat.

“Hukum aku jika aku tak mampu mencintaimu,” jawab sang pria yang bahkan tak pernah tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat mengatakan itu.

Namun seperti manusia lainnya yang tak akan pernah puas untuk jawaban yang tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, sang wanita kembali bertanya, “Sebesar apakah cintamu itu?”

“Tak besar,” jawab pria serta-merta, dan kesunyian kembali terjadi di antara mereka.

“Lihat mataku dan katakan bahwa kau mencintaiku.”

Sang pria menggeleng, “Itu tak pernah cukup, dunia tidak hanya menatap matamu begitu saja, lalu kau langsung percaya padanya.” Sang pria kembali mengangkat lengannya, melakukan apa yang sebelumnya sudah ia lakukan

Dengan tubuh yang bergetar, penuh dengan ketakutan akan seperti apa dirinya beberapa menit lagi, sang wanita mencoba memeluk pria itu. Tapi pelukan itu tak pernah menyentuh ujung jiwa sang pria sedikitpun. “Kita sudah melewati banyak hal, tidakkah itu berarti sesuatu untukmu?” sang wanita mengeratkan pelukannya. “Jadi mungkin jika kau mengucapkannya sekali saja, aku akan langsung percaya, tak masalah jika cinta itu dikemas secara instan dan akan kadaluarsa nantinya.”

Sang pria mencengkram erat bahu wanita itu dan menatapnya tajam. “Ya, aku mencintaimu, aku mencintaimu seperti api yang tak mampu membakar kayu, aku mencintaimu seperti ombak yang tak mampu memecah karang, seperti hitam yang tak mampu menghilangkan putih, seperti senja yang tak mampu mengalahkan malam. Aku mencintaimu seperti aku kehilangan semua kemampuanku.”

Sang wanita menghela nafas yang sedari tadi tertahan secara paksa. “Lalu mengapa kau melakukan ini? Mengapa kau tak mampu melepaskanku, mengapa kau menahanku seolah aku ini seorang tawanan? Mengapa kau melakukan semuanya? Haruskah semuanya berakhir seperti ini?” suara wanita itu semakin parau dan tersekat, ia bahkan sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk menunjukkan bahwa ia marah.

Sang pria terdiam sejenak, mencoba memproses semua pertanyaan yang terlontar kepadanya. Hingga dalam tekanan akan pertanyaan yang tak pernah ditanyakan oleh siapapun sebelumnya itu, ia mengeluarkan segalanya, jiwanya yang membusuk tak mampu lagi menahan dirinya. “Itulah sebabnya!” teriaknya.

“Apa maksudmu?” tanya wanita itu bingung.

“Aku terlalu mencintaimu sehingga aku tak mampu membunuhmu, tak bisakah kau bertingkah seperti 5 wanita sebelumnya dan membuat ini semua terasa mudah? Aku mencintaimu meski aku tahu perasaanmu hanya sebatas keinginan untuk tetap bertahan di dunia ini.”

Dalam kegelapan abadi dari ruang bawah tanah yang menjadi tempat sang wanita berkenalan dengan dehidrasi selama 2 tahun ini, ia mendapatkan penyesalan terbesar karena merasa dicintai.

 

 

Advertisements