PERTANYAAN TENTANG HUJAN

(Oleh: Fido Wiratmoko)

 

Aku benci hujan, lantas mengapa itu terdengar salah? Aku benci hujan, lantas mengapa itu terasa ganjil? Aku benci hujan, lantas mengapa itu terasa amat jahat? Aku benci hujan, dan aku tak berhenti menatapnya saat ini— ironis.

Senyum itu menggangguku, senyum dari tiga orang anak yang dengan riangnya menari di bawah gempuran air langit yang datang tanpa permisi. Mereka melompat, tertawa girang, dan mendongak ke atas dengan mata terpejam berusaha menikmati setiap tetesan air yang memenuhi wajah mungil itu. Mereka tak menyediakan waktu bahkan untuk menarik nafas sekalipun, seolah rasa jemu sudah terhapus dari deretan memori kosakata yang ada di kepala mereka. Lalu apa yang salah dari mereka? Aku tak henti-hentinya menginterogasi batinku sendiri, sebab aku merasa tidak memiliki motif untuk membenci mereka bertiga hanya karena menikmati momen ini.

“Ah, akhirnya hujan turun juga, syukurlah semuanya akan lebih baik setelah ini—semoga saja.” Telingaku terlalu peka dan itu buruk, meski jaraknya mungkin terlihat seperti Venus dan Mars (cukup dekat di tata surya), tapi seharusnya ada Bumi yang mampu menghalangi suara ini. Tapi kenyataannya aku bisa mendengarnya dengan jelas, dua orang paruh baya yang menopangkan payung di bahu sebelah kanan mereka, berjalan dengan langkah yang lebih tegak. Aku ingat kemarin saat aku melihat mereka berjalan melewatiku, langkahnya tak setegak ini— bahkan agak membungkuk, keadaan ini seolah membuat mereka terlihat 25 tahun lebih muda. Ya, mereka adalah ojek payung musiman yang hanya menghasilkan 30 ribu dalam sehari jika musim sedang kemarau, sebuah pemandangan yang wajar jika saat ini mereka lebih bahagia, mungkin bagi mereka, ini adalah keputusan yang sangat tepat untuk menjadi pebisnis sejati, yakni dengan tetap menginvestasikan pekerjaan ‘Ojek Payung’ di pasar saham, dan pada akhirnya, boom! Nilai kebutuhan akan ojek payung meledak, dan penghasilan mereka naik hingga 1000%.

“Ah, 25 tahun lebih muda, ingin rasanya diguyur hujan dan mengembalikan masa muda lagi, tak perlu 25 tahun, rasanya aku hanya butuh 3 tahun dan itu sudah cukup,” batinku. Tapi hujan tak memberikanku apapun, ia hanya membasahi ujung celana panjangku, membuatnya terasa tak nyaman saat menyentuh kulitku, dan itu bukanlah seperti ekspektasi yang dibayangkan oleh semua orang.

(Petir menyambar), cahaya menyilaukan seperti naga kurus yang menari muncul di hadapanku, kali ini indera pengelihatanku yang dilucuti tak berdaya. Oh kupikir keadaan ini tidak akan bisa menjadi lebih buruk lagi, namun sang sahabat hujan sepertinya tidak ingin melewatkan pesta untuk mengolok-olok perasaanku saat ini. Tak bisakah udara panas dan udara dingin menjadi lebih akur untuk sebentar saja, kurasa mereka tak perlu bergesekan untuk membuatku percaya bahwa aku tidak menyukai keadaan ini, karena memang aku tidak suka, bukan­— aku membencinya.

Orang bilang, petir tidak akan pernah menyambar tempat yang sama untuk yang kedua kalinya, oh kumohon, jika memang benar begitu, aku sungguh iri, aku juga ingin dipindahkan dari sini, dari keadaan yang sudah membuatku merasakan sesuatu yang sama berulang-ulang, aku tak bergerak, aku seperti jam yang kehabisan baterai saat waktu terus berjalan tak menghiraukan.

Indra pengecapku berkemul di balik kedua rahangku kala kukecap rasa teh yang aku yakin bersuhu 70 derajat beberapa saat yang lalu, kini sudah berubah dingin, persis seperti dunia yang saat ini memperlakukanku­— dingin, tak peduli, acuh, dan menjauh. Inikah momen yang disukai oleh semua orang? Inikah momen yang dianggap sebagai momen terbaik? Well, jika memang inilah kenyataannya, aku akan mundur dengan teratur sebagai sukarelawan pecinta hujan. Aku mungkin akan berdiri di belakang teh hangat yang juga akan memprotes kesewenangan hujan yang menghilangkan kemampuan spesialnya— menghangatkan tubuh manusia.

“Oh, bau ini!” syarafku bekerja dengan baik, ia memberikan informasi ke otak dan memberitahukan bahwa aku tidak menyukainya, lalu otak pergi mengirimkan pesan ke perutku yang berisi, “Buatlah pria ini mual!” Lalu perutku dengan cepat memproses pesan itu­— hingga akhirnya aku mual. Aku mual mencium bau rumput dan tanah yang bercampur bersama dengan air hujan, tapi kudengar semua orang menyukai bau ini, kudengar bau ini masuk dalam 10 besar bau terbaik yang berasal dari alam— sepanjang sejarah. Tapi bagiku, bau ini mungkin masuk dalam posisi ke-9765 pada daftar jenis-jenis bau yang ingin aku cium seumur hidup. Aku mengalami phobia tercepat dalam sejarah umat manusia, dan akulah yang pertama kali merasakannya, aku takut bau itu menyentuh hidungku sekali lagi, ini seperti perbuatan paling mengerikan yang pernah dilakukan oleh seorang psikopat kepada korbannya, dan aku mengalaminya—aku trauma terhadap bau ini.

Gemetar, kupikir ini hanya kualami saat aku merasa takut atau aku merasa gugup saat berada dalam situasi tertentu, tapi ini benar-benar terjadi, tanganku gemetar, seperti getaran yang terjadi di tengah laut dan membuat laut menghasilkan gelombang yang tinggi. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku takut, atau merasa gugup? Ujung jariku berkerut, kulitnya tampak berkontur dan memucat. Aku tak bisa merasakan apapun, semuanya terasa tak bertekstur, semuanya, bahkan hidupku yang ingin coba kurasakan dengan kulitku sama sekali tak terasa, ini semua datar, ini semua tak teraba, aku membutuhkan sesuatu, bahkan jika harus merasakan permukaan yang kasar, ataupun satu sisi yang tajam, aku rela, asal aku bisa merasakan sesuatu lagi, hujan ini membunuh indera perabaku— dan aku buta.

Mungkinkah aku berbeda dari mereka? Mungkinkah aku adalah jenis yang lain dari manusia? Mungkinkah aku berasal dari tempat yang hanya bisa dicapai melalui lubang hitam? Karena aku merasa tidak berada di posisi yang tepat saat ini. Aku seperti orang (atau yang lainnya) yang tidak mampu beradaptasi dengan hal-hal baik yang terjadi di sini. Hujan itu seperti lampu hijaunya kehidupan, ia mengizinkan tumbuhan untuk tumbuh, manusia untuk minum, dan hewan untuk memenuhi segala kebutuhannya, tapi tetap saja aku membencinya, seperti aku membenci sayuran pahit, seperti aku membenci saus yang tercampur mayones, seperti aku membenci masa laluku, seperti aku membenci kehilangan, seperti aku membenci diriku saat terlalu menggantungkan diri. Aku tidak ingin menghentikan semua kebencian itu dengan tanda titik— atau aku hanya tak bisa melakukannya.

Aku membenci hujan, tapi mungkin semuanya akan terasa berbeda jika kau meraih pundakku saat ini, mendekapku, duduk disampingku dan tertawa bersamaku menyaksikan semua ini (lagi). 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s