Pertanyaan tentang Hujan

Pertanyaan tentang Hujan

PERTANYAAN TENTANG HUJAN

(Oleh: Fido Wiratmoko)

 

Aku benci hujan, lantas mengapa itu terdengar salah? Aku benci hujan, lantas mengapa itu terasa ganjil? Aku benci hujan, lantas mengapa itu terasa amat jahat? Aku benci hujan, dan aku tak berhenti menatapnya saat ini— ironis.

Senyum itu menggangguku, senyum dari tiga orang anak yang dengan riangnya menari di bawah gempuran air langit yang datang tanpa permisi. Mereka melompat, tertawa girang, dan mendongak ke atas dengan mata terpejam berusaha menikmati setiap tetesan air yang memenuhi wajah mungil itu. Mereka tak menyediakan waktu bahkan untuk menarik nafas sekalipun, seolah rasa jemu sudah terhapus dari deretan memori kosakata yang ada di kepala mereka. Lalu apa yang salah dari mereka? Aku tak henti-hentinya menginterogasi batinku sendiri, sebab aku merasa tidak memiliki motif untuk membenci mereka bertiga hanya karena menikmati momen ini.

“Ah, akhirnya hujan turun juga, syukurlah semuanya akan lebih baik setelah ini—semoga saja.” Telingaku terlalu peka dan itu buruk, meski jaraknya mungkin terlihat seperti Venus dan Mars (cukup dekat di tata surya), tapi seharusnya ada Bumi yang mampu menghalangi suara ini. Tapi kenyataannya aku bisa mendengarnya dengan jelas, dua orang paruh baya yang menopangkan payung di bahu sebelah kanan mereka, berjalan dengan langkah yang lebih tegak. Aku ingat kemarin saat aku melihat mereka berjalan melewatiku, langkahnya tak setegak ini— bahkan agak membungkuk, keadaan ini seolah membuat mereka terlihat 25 tahun lebih muda. Ya, mereka adalah ojek payung musiman yang hanya menghasilkan 30 ribu dalam sehari jika musim sedang kemarau, sebuah pemandangan yang wajar jika saat ini mereka lebih bahagia, mungkin bagi mereka, ini adalah keputusan yang sangat tepat untuk menjadi pebisnis sejati, yakni dengan tetap menginvestasikan pekerjaan ‘Ojek Payung’ di pasar saham, dan pada akhirnya, boom! Nilai kebutuhan akan ojek payung meledak, dan penghasilan mereka naik hingga 1000%.

“Ah, 25 tahun lebih muda, ingin rasanya diguyur hujan dan mengembalikan masa muda lagi, tak perlu 25 tahun, rasanya aku hanya butuh 3 tahun dan itu sudah cukup,” batinku. Tapi hujan tak memberikanku apapun, ia hanya membasahi ujung celana panjangku, membuatnya terasa tak nyaman saat menyentuh kulitku, dan itu bukanlah seperti ekspektasi yang dibayangkan oleh semua orang.

(Petir menyambar), cahaya menyilaukan seperti naga kurus yang menari muncul di hadapanku, kali ini indera pengelihatanku yang dilucuti tak berdaya. Oh kupikir keadaan ini tidak akan bisa menjadi lebih buruk lagi, namun sang sahabat hujan sepertinya tidak ingin melewatkan pesta untuk mengolok-olok perasaanku saat ini. Tak bisakah udara panas dan udara dingin menjadi lebih akur untuk sebentar saja, kurasa mereka tak perlu bergesekan untuk membuatku percaya bahwa aku tidak menyukai keadaan ini, karena memang aku tidak suka, bukan­— aku membencinya.

Orang bilang, petir tidak akan pernah menyambar tempat yang sama untuk yang kedua kalinya, oh kumohon, jika memang benar begitu, aku sungguh iri, aku juga ingin dipindahkan dari sini, dari keadaan yang sudah membuatku merasakan sesuatu yang sama berulang-ulang, aku tak bergerak, aku seperti jam yang kehabisan baterai saat waktu terus berjalan tak menghiraukan.

Indra pengecapku berkemul di balik kedua rahangku kala kukecap rasa teh yang aku yakin bersuhu 70 derajat beberapa saat yang lalu, kini sudah berubah dingin, persis seperti dunia yang saat ini memperlakukanku­— dingin, tak peduli, acuh, dan menjauh. Inikah momen yang disukai oleh semua orang? Inikah momen yang dianggap sebagai momen terbaik? Well, jika memang inilah kenyataannya, aku akan mundur dengan teratur sebagai sukarelawan pecinta hujan. Aku mungkin akan berdiri di belakang teh hangat yang juga akan memprotes kesewenangan hujan yang menghilangkan kemampuan spesialnya— menghangatkan tubuh manusia.

“Oh, bau ini!” syarafku bekerja dengan baik, ia memberikan informasi ke otak dan memberitahukan bahwa aku tidak menyukainya, lalu otak pergi mengirimkan pesan ke perutku yang berisi, “Buatlah pria ini mual!” Lalu perutku dengan cepat memproses pesan itu­— hingga akhirnya aku mual. Aku mual mencium bau rumput dan tanah yang bercampur bersama dengan air hujan, tapi kudengar semua orang menyukai bau ini, kudengar bau ini masuk dalam 10 besar bau terbaik yang berasal dari alam— sepanjang sejarah. Tapi bagiku, bau ini mungkin masuk dalam posisi ke-9765 pada daftar jenis-jenis bau yang ingin aku cium seumur hidup. Aku mengalami phobia tercepat dalam sejarah umat manusia, dan akulah yang pertama kali merasakannya, aku takut bau itu menyentuh hidungku sekali lagi, ini seperti perbuatan paling mengerikan yang pernah dilakukan oleh seorang psikopat kepada korbannya, dan aku mengalaminya—aku trauma terhadap bau ini.

Gemetar, kupikir ini hanya kualami saat aku merasa takut atau aku merasa gugup saat berada dalam situasi tertentu, tapi ini benar-benar terjadi, tanganku gemetar, seperti getaran yang terjadi di tengah laut dan membuat laut menghasilkan gelombang yang tinggi. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku takut, atau merasa gugup? Ujung jariku berkerut, kulitnya tampak berkontur dan memucat. Aku tak bisa merasakan apapun, semuanya terasa tak bertekstur, semuanya, bahkan hidupku yang ingin coba kurasakan dengan kulitku sama sekali tak terasa, ini semua datar, ini semua tak teraba, aku membutuhkan sesuatu, bahkan jika harus merasakan permukaan yang kasar, ataupun satu sisi yang tajam, aku rela, asal aku bisa merasakan sesuatu lagi, hujan ini membunuh indera perabaku— dan aku buta.

Mungkinkah aku berbeda dari mereka? Mungkinkah aku adalah jenis yang lain dari manusia? Mungkinkah aku berasal dari tempat yang hanya bisa dicapai melalui lubang hitam? Karena aku merasa tidak berada di posisi yang tepat saat ini. Aku seperti orang (atau yang lainnya) yang tidak mampu beradaptasi dengan hal-hal baik yang terjadi di sini. Hujan itu seperti lampu hijaunya kehidupan, ia mengizinkan tumbuhan untuk tumbuh, manusia untuk minum, dan hewan untuk memenuhi segala kebutuhannya, tapi tetap saja aku membencinya, seperti aku membenci sayuran pahit, seperti aku membenci saus yang tercampur mayones, seperti aku membenci masa laluku, seperti aku membenci kehilangan, seperti aku membenci diriku saat terlalu menggantungkan diri. Aku tidak ingin menghentikan semua kebencian itu dengan tanda titik— atau aku hanya tak bisa melakukannya.

Aku membenci hujan, tapi mungkin semuanya akan terasa berbeda jika kau meraih pundakku saat ini, mendekapku, duduk disampingku dan tertawa bersamaku menyaksikan semua ini (lagi). 

Kado dari Kereta

KADO DARI KERETA

(Oleh: Fido Wiratmoko)
Langkahku gontai saat berjalan menyusuri peron yang pada sore hari itu tampak sepi— meski terlihat beberapa orang yang sibuk menyemarakkan suasana dengan teriakan-teriakan penuh semangat yang menyebalkan, tapi tetap saja, peron itu tampak sepi bagiku. Aku berusaha mempercepat langkahku, meski aku yakin semua orang akan segera menyadarinya bahwa saat ini aku sedang berjalan miring dan berat, benar-benar tidak seperti orang yang sedang memburu sesuatu. Dengan mata yang masih terasa amat sayu, aku mencoba menemukan gerbong ke-7 bangku 6C yang sudah kupesan beberapa saat sebelumnya.

Bangku itu terletak di tengah-tengah gerbong, sebuah kondisi yang sangat tidak aku sukai, berada di tengah-tengah, merasa tolol karena tidak bisa mengetahui apa yang berada di depan, dan merasa lebih tolol lagi karena tidak mengetahui apa yang ada di belakang, aku benci berada di tengah-tengah. Namun keadaan yang sudah buruk ini menjadi lebih buruk lagi, sebab ketika kulihat bangku yang akan aku tempati, bangku itu ternyata sudah dihuni lebih dulu oleh seorang pria yang menatapku lembut dengan iringan senyum—aku tidak mengerti bagaimana orang-orang bisa melakukan dua hal dengan wajahnya di saat bersamaan, menatap dengan senyum adalah pekerjaan yang sangat membebani wajahnya.

Aku melenguh nafas panjang nan berisik yang sudah pasti bisa di dengar oleh pria itu, “Kau yang duduk di bangku 6D?” tanyaku “Apakah hanya kita yang menghuni bagian nomor 6 ini?”

Ia tampak melebarkan senyumnya dan berusaha memantapkan suaranya sebelum berbicara, “Ya, nampaknya kita adalah teman perjalanan, tuan. Lalu entah ini kabar yang baik atau buruk bagimu, tapi sepertinya tidak ada penumpang yang akan duduk berhadapan dengan kita,” jelasnya. “Jadi apakah kau ingin aku pindah ke bangku seberang dan kita akan saling berhadapan atau kau lebih nyaman seperti ini?”

Keningku berkerut heran, aku tak tahu bagaimana bisa bangku yang diisi terlebih dahulu ada pada huruf C dan D, bukannya malah A dan B. “Tidak masalah, duduk saja bersebelahan denganku, aku tidak terlalu nyaman diperhatikan oleh orang lain.”

Ia mengangguk pelan, “Baiklah, sepertinya kita sama,” sesaat kemudian ia terlonjak seolah telah melewatkan sesuatu yang penting, “Oh maaf atas kelancanganku yang tidak memperkenalkan diri, aku Izra, dan kau, tuan?”

“Ben,” jawabku lesu sembari mengambil posisi duduk di bangku yang berhubungan langsung dengan koridor, sementara Izra mendapatkan bangku yang lebih dekat dengan jendela besar pada sisi kanan kereta.

Tiga hari yang lalu…

Di sebuah ruang sempit yang akan membunuh seorang penderita claustrophobia dan pembenci bau obat dengan cepat, aku terduduk penuh tanya di samping istri tercintaku, seorang wanita yang sudah menemaniku selama 2 tahun terakhir ini. Di hadapan kami, tampak wajah penuh kebingungan yang sedari tadi terus saja menatap catatan medis yang terus ia bolak-balik setiap halamannya tanpa arti. Aku tahu ini akan buruk, aku tahu jika seorang dokter merasa kebingungan untuk menyampaikan apa yang sedang ia pikirkan, semuanya tidak akan berakhir baik.

Istriku yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi, mengangkat tubuh yang sebelumnya tersandar di sofa nyaman ruangan itu dan segera mencondongkan diri ke meja dokter di hadapannya, “Jadi bagaimana hasilnya, dokter?”

Sang dokter menjatuhkan dirinya pada sandaran kursi dan melemparkan beberapa lembar catatan medis ke meja dengan acuh, nafasnya tampak menghela tak karuan, “Maaf bu, aku harus memberitahukan ini, tapi suami anda didiagnosa menderita kanker otak stadium empat dan aku takut ia tidak memiliki waktu yang lama lagi. Kami hanya bisa membantu dengan memperlambat perkembangan sel kankernya, tapi karena itu sudah menjalar, kami tidak bisa berbuat banyak.”

Istriku terdiam, aku tahu ini bukanlah bagian dari rencana panjang yang sudah ia persiapkan sebelum kami menikah dua tahun yang lalu. Tak pernah sedikitpun terpikir olehnya untuk berurusan dengan CAT scan, kemoterapi, dan bau sel kanker yang sangat menyengat. Dalam keterkejutan wajarnya, ia bangkit dari duduknya dan berbalik pergi meninggalkan aku dan dokter yang saat itu masih terlihat bingung dengan apa reaksi yang seharusnya kami pilih. Aku berjalan keluar mengikutinya dari belakang, sepanjang perjalanan pulang, setidaknya aku berusaha memahami apa yang sedang dirasakan oleh istriku saat ini, aku mengerti bahwa mungkin memang benar akulah yang akan mati disini, tapi beban yang ku pikul tidaklah lebih berat daripada orang-orang yang akan aku tinggalkan nanti—hal paling menyebalkan dari kanker adalah kenyataan bahwa kau tidak hanya memikirkan rasa sakit yang ada di tubuhmu sendiri, tapi juga rasa sakit lainnya yang timbul dalam diri orang-orang terdekatmu yang belum siap menerima kenyataannya.

Aku diacuhkan, bahkan saat tiba di rumah dan aku mencoba mendekatinya yang berdiri mematung di depan bak cuci piring yang ada di dapur, ia tidak menggubris pelukanku, aku memang menyentuh punggungnya, aku memeganginya erat, tapi ia tidak benar-benar berada disana, pikirannya melayang-layang di sekitar tempat yang bernama “Apa yang harus kulakukan selanjutnya jika memiliki suami yang menderita kanker dan umurnya sudah tidak lama lagi” dan aku tidak bisa menyusulnya ke tempat itu. Jadi aku melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya, berjalan mundur dan membiarkannya berpikir sejenak tanpa gangguan dari siapapun.
Dua hari yang lalu…

Ini sempurna, didiagnosis kanker ganas, belum berbicara dengan istri selama lebih dari 12 jam, dan kini setelah berjuang mendapatkannya selama bertahun-tahun, aku kehilangan pekerjaanku dalam lima menit perdebatan. Ya, pada akhirnya aku menerimanya dengan berat hati, tidak ada yang bisa aku lakukan lagi, sebab perusahaan mana yang dengan beraninya mempekerjakan seorang penderita kanker yang memiliki umur pendek, benar-benar penentangan visi perusahaan yang memikirkan kemajuan jangka panjang.

Ternyata memang benar, kanker bukanlah penyakit yang terlalu menyakitkan jika hanya ada penyakit ini saja, tapi yang jauh lebih menyiksa dan membuatnya terasa menyakitkan adalah setiap efek samping yang ditimbulkan olehnya. Aku kehilangan hampir lebih dari separuh hidupku hanya dalam waktu 48 jam setelah aku didiagnosis, ini gila, aku seperti bom waktu yang menjauhkan semua hal yang kusukai dengan terpaksa.

Istriku sudah menyadari ini semua akan terjadi, di rumah, saat aku menceritakan apa yang aku dapatkan hari ini, ia tampak acuh dan tidak menanggapinya sama sekali. Sepertinya semua ini persis seperti dugaannya, hidupku, oh bukan, sepertinya hidupnya lebih hancur daripada yang bisa kubayangkan. Ia hanya berjalan melewatiku tanpa berkata apapun dan melangkahkan kakinya ke ruang tengah, menjatuhkan diri ke sofa, dan menyalakan televisi dengan volume yang ia tinggikan semaksimal mungkin.
Kemarin…

Kepalaku terasa pengar pagi ini akibat obat yang aku minum semalam. Aku mencoba bangkit dari pembaringanku dan mencari-cari keberadaan istriku. Aku berjalan menyusuri setiap ruangan di rumah, tapi ia tidak ada disana. Aku tahu tidak seharusnya aku berpikir begini, tapi hal yang paling logis muncul di kepalaku saat ini adalah kenyataan bahwa ia sudah tidak tahan lagi dengan kehidupan yang seperti ini.

Dugaanku semakin diperkuat saat aku menemukan sebuah surat tanpa amplop yang tergeletak di atas meja dapur, tempat terakhir yang aku datangi, aku masih memiliki harapan bahwa ia saat ini sedang memasak di sana, tapi ternyata tidak, hanya surat itulah yang kutemukan disana.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat kau pergi nanti, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Ini semua terasa sangat mengejutkan dan aku belum siap untuk menerimanya. Kuharap kau mengerti bahwa aku begini karena memikirkan nasib kita berdua. Kumohon jangan mencariku, aku akan kembali saat aku sudah siap”

Aku tak bisa menyalahkannya, ini adalah hal yang berat baginya, ketidaksiapannya adalah hal yang wajar. Aku sudah terlalu membebani hidupnya, aku menghancurkan semua rencana besarnya. Aku mengkandaskan semua mimpi-mimpinya— memiliki anak, berlibur ke luar negeri, membangun rumah baru sendiri, serta menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia. Permintaan-permintaan yang seharusnya bisa kupenuhi dalam waktu beberpa tahun saja, tapi itu semua sudah dimakan habis oleh sel-sel kanker ini. Tubuhku kini tak lebih dari tumpukan sampah berpenyakit, tak ada yang tersisa disini, aku hanyalah penghancur impian, aku hanyalah penguras keuangan demi sebuah pengobatan. 

Hanya ada satu yang bisa kulakukan saat ini, kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada, mempercepat proses yang terasa lama dan melelahkan. Memberikan istriku kesempatan untuk membangun semuanya dari nol, melepaskan semua bebannya dan memikulnya bersama dengan bebanku. Ya, aku akan pergi menghilang, menjauhi semua ini, menuliskan kata “muak” dan “ingin bersenang-senang” pada surat balasanku kepadanya dan membuatnya merasa bahwa akulah yang meninggalkannya saat ia kembali nanti. Berharap ia akan berpikir bahwa aku mati membusuk sebagai pria penderita kanker yang bersenang-senang dengan wanita lain di hari-hari terakhirnya. Dengan begitu, ia tidak akan merasa bersalah, ia tidak akan mengenangku sepanjang waktu dan menghancurkan hidupnya sedikit demi sedikit. 
Di Kereta…

Kereta sudah bergerak maju dengan kecepatan konstan selama lebih dari setengah jam sejak stasiun tempat aku naik tadi. Tidak banyak orang di dalam sana, hanya ada aku dan Izra di bagian tengah dan beberapa orang di gerbong depan dan belakang.

“Ke mana kau akan menuju Ben?” Izra membuka pembicaraan dan membangunkan lamunanku yang masih terfokus pada kejadian tiga hari yang lalu.

Aku sekilas bisa melihat wajah penuh semangatnya dan itu membuatku sedikit kesal, “Air terjun Tenebria.”

Ia tampak terkagum mendengarku mengatakan hal itu. “Wow, itu tempat yang luar biasa bung, aku dengar airnya sangat jernih.” Aku hanya mengangguk acuh menanggapi ucapan Izra barusan.

Ya, air terjun itu memang terkenal sangat indah, tapi juga tidak banyak yang pergi ke sana, sebab ada banyak kejadian buruk yang membuat air terjun itu ditutup dan dilarang untuk didatangi. Namun tampaknya Izra tidak mengetahui hal ini, yang ia tahu sepertinya hanyalah mengenai rumor jadul yang menceritakan betapa indahnya tempat itu. Sementara bagiku, itu seperti tempat yang sangat pas untuk menghilangkan diri dan menjauhi ini semua— kehidupan yang penuh dengan kekejaman dan kesendirian.

“Mau bertukar tempat denganku Ben? Lihatlah pemandangannya,” tawar Izra. Namun dengan lembut aku menggelengkan kepalaku. Aku sudah tidak mempedulikan hal-hal seperti itu lagi, dunia terasa sudah cukup untukku. “Jadi Ben, apa yang membuatmu memtuskan untuk bunuh diri?” pertanyaan itu menyentakkan tubuhku keras, aku benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Izra. Aku bisa mendengarnya dengan jelas apa yang ia tanyakan, namun akau mencoba memastikannya lagi, “Apa? Apa yang baru saja kau katakan?”

Ia tersenyum kecut, “Kurasa kau mendengarnya Ben, aku barusan bertanya apa yang membuatmu memutuskan untuk bunuh diri? Aku tahu itu, sebab siapa orang yang ingin datang ke air terjun Tenebria untuk bersenang-senang?” ujarnya.

“Bukan urusanmu!” tukasku.

“Oh baiklah, tapi biar kuberitahu sesuatu, tidak semua orang bisa mati saat melompat dari sana, ada beberapa yang hanya mengalami patah tulang dan sebagainya, dan jika itu terjadi padamu, kau hanya akan menjadi pria kanker yang cacat.” Aku kembali tersentak, ini jelas sudah tidak wajar. 

Aku bergerak perlahan menjauhinya, mengambil posisi duduk di bagian paling ujung dari bangku, berusaha menjauhinya sejauh mungkin. “Kau terkejut karena aku mengetahui kondisimu saat ini Ben? Ayolah, aku bisa menciumnya dari baumu, dari raut wajahmu, dari langkahmu, kau sedang berada pada kanker stadium akhir, aku sedikit mempelajarinya dari kuliah dulu.” Penjelasan itu tetap saja tidak mengurangi keterkejutanku.

Tapi entah mengapa dalam beberpa detik kesunyian yang kami ciptakan setelahnya, untuk pertama kalinya aku seolah merasa dimengerti, aku tak tahu apa yang ia lakukan, tapi ia seolah benar-benar mengetahui apa yang sedang aku rasakan sekarang, sehingga dengan sedikit ragu, aku mencoba menceritakannya, sebab aku memang membutuhkan itu saat ini, aku membuka mulutku perlahan, “Ya, aku menderita kanker otak stadium akhir, usiaku tinggal beberapa bulan, aku kehilangan pekerjaanku, aku kehilangan teman-temanku, dan yang lebih buruk lagi, aku kehilangan istri tercintaku, aku merasa keadaanku membebani mereka, jadi aku memutuskan untuk mempercepat proses kematianku, karena pada akhirnya semuanya sama saja.”

Ia mengangguk seraya tersenyum saat memperhatikanku dengan seksama, “ Aku turut prihatin mengenai kankermu Ben, tapi wow Ben! Jika kau abaikan penyakitmu dan memperhatikan hal-hal kecil lain, kau benar-benar mendapatkan sesuatu yang luar biasa, aku tahu memang jauh lebih mudah mengakhiri semuanya sekarang karena penderitaanmu akan segera hilang, tapi tidakkah kau ingin mencoba menikmati kadomu terlebih dahulu sebelum meninggal Ben?” tanyanya.

“Kado?” tanyaku heran. Aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang ia maksudkan, ia memang terlihat seperti pria paling optimis, tapi ucapannya ini terdengar tidak masuk akal.

  “Ya, kado, kau mendapatkan dua kado terbaik yang tidak semua orang mendapatkannya, Ben.” Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasannya, tapi ia terus tersenyum lebar dan tampak antusias untuk melanjutkannya, “Kado pertamamu adalah, kau diberikan rahasia terbesar yang dibocorkan padamu, yakni kesempatan untuk mengetahui sisa umurmu Ben! Sehingga kau bisa melakukan hal yang baik untuk kehidupanmu selanjutnya, tidakkah itu luar biasa? Atau mungkin kau juga bisa membuat daftar hal-hal yang ingin kau lakukan sebelum waktumu habis? Jadi kau bisa mendapatkan kesenangan di duniamu yang singkat dan kebaikan di kehidupan selanjutnya yang abadi?”

Itu memang benar, aku memang diberikan kesempatan untuk mengetahui sisa umurku, tapi di satu sisi itu sangat menyebalkan, sebab siapa orang yang ingin mati? semua orang tentu ingin tetap hidup. “Lalu apa kado keduaku?” tanyaku penasaran.

Ia mengalihkan pandangannya dan menatap ke luar melalui jendela besar di sisi kanannya, “Kado keduamu adalah kesempatan untuk merasakan kehilangan segalanya dan berada dalam kesendirian. Kau tahu Ben, semua orang di dunia ini pada akhirnya akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan mereka akan menjalani sisanya sendirian, tanpa ada bantuan dari siapapun. Dan kau Ben, kau diberikan kesempatan untuk berlatih berjuang sendiri, berdiri sendiri dengan kakimu dalam penderitaan terbesar ini, tidak banyak orang yang diberikan kesempatan untuk melakukan itu. Aku tahu untuk menyadari semua itu kau harus melewati rasa sakit dan penderitaan melalui kankermu, tapi percayalah itu adalah hal yang baik, sebab suatu saat beberapa orang tidak akan dipersiapkan seperti dirimu.” Aku terhenyak, aku tak tahu harus melakukan apa, seketika perjalanan ini terasa sia-sia, sebab saat aku memikirkannya kembali, ada sekelebat hal-hal menyenangkan yang masih ingin aku lakukan, dan mengapa itu terasa hilang selama ini? Apakah aku terlalu fokus dengan penyakitku dan hal-hal buruk yang ditimbulkannya? Sehingga aku lupa ada hal lain yang seharusnya aku pikirkan dan kuperhatikan.

Kereta itu berhenti di salah satu stasiun tak lama kemudian, Izra bangkit dari duduknya secara tiba-tiba “Ini pemberhentianku Ben, jadi sisanya aku serahkan padamu, apakah kau masih ingin melakukannya dengan terburu-buru ataukah kau masih ingin menunggu sebentar lagi.” Tangan Izra menekan bahuku pelan, tekanan itu terasa amat menenangkan, “Ben, biar kuberitahu satu rahasia kecil,” ia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu “Hari ini, bukanlah waktumu Ben, pulanglah!” bisiknya pelan.

Aku terkejut mendengar ucapan itu, namun dibalik itu semua terasa ada ketenangan yang mengalir di setiap inchi tubuhku. Izra melepaskan pegangannya pada pundakku dan berjalan pergi menuju ke pintu yang ada di gerbong depan, sebelum ia menjauh ada satu pertanyaan yang terlintas di benakku, “Tunggu Izra, siapa kau sebenarnya?” aku tak tahu mengapa aku bertanya begitu, pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba di kepalaku.

Izra berbalik dan melebarkan senyumnya kembali, senyuman itu kini terasa lebih hangat dari sebelumnya, “Kita akan bertemu beberapa bulan lagi Ben, sampai jumpa.”